Lagu 15 Detik yang Menguasai Internet: Apakah Musik Kini Harus Singkat?

Coba hitung, berapa detik yang biasanya kamu berikan sebelum menekan tombol skip pada sebuah lagu baru di TikTok atau Spotify? Dua detik? Lima detik? Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan personal—ia telah mengubah cara musisi menulis lagu dari hulu ke hilir. Sebuah lagu masa kini sering kali harus “menjual dirinya” dalam hitungan detik pertama, atau berisiko tenggelam di lautan konten. Pertanyaannya: apakah ini berarti musik memang harus jadi singkat agar bisa bertahan di era digital?

Sejak sekitar 2019, durasi rata-rata lagu populer tercatat berkisar tiga menit dua belas detik, jauh lebih pendek dibandingkan lagu-lagu era 1990-an hingga 2000-an yang umumnya berdurasi empat hingga lima menit. Salah satu pemicu utamanya adalah cara kerja platform streaming: sebuah pemutaran baru dihitung sebagai satu stream setelah lagu didengarkan minimal 30 detik. Aturan teknis inilah yang mendorong musisi dan produser menaruh bagian paling menarik di awal lagu, bukan lagi menyusunnya lewat intro instrumental yang panjang.

Di sisi lain, TikTok memperkuat tekanan ini lewat format kontennya yang hanya berdurasi belasan detik. Banyak lagu kini sengaja dirancang memiliki potongan chorus pendek yang mudah dijadikan sound viral, membuat bagian intro atau bridge yang kompleks perlahan ditinggalkan.

Ines Dunn, penulis lagu di balik hit “House On Fire” milik Mimi Webb dan “Run” milik Maisie Peters, menceritakan pengalamannya kepada BBC soal bagaimana TikTok mengubah cara ia bekerja. Ia mengungkapkan bahwa rentang perhatian orang-orang menurun drastis, sampai-sampai pendengar bisa menyukai sebuah lagu tanpa tahu judul maupun nama penyanyinya—yang mereka ingat hanyalah potongan musiknya saja.

Pandangan senada disampaikan penyanyi sekaligus penulis lagu pop asal Inggris, Claudia Valentina, yang menulis “Jump” untuk Blackpink dan “Mantra” untuk Jennie. Menurutnya, seorang musisi kini harus mampu menarik perhatian pendengar dalam dua detik pertama sebuah lagu—dan itu pun, katanya, baru berarti jika lagu tersebut memang memiliki satu lirik yang benar-benar kuat untuk dijual.

Contoh paling nyata dari filosofi ini adalah perjalanan PinkPantheress. Sebagai mahasiswi film di London, ia awalnya mengunggah potongan musik yang belum selesai ke TikTok sebagai semacam “filter kualitas” dari publik—jika sebuah potongan lagu mendapat cukup banyak suka, barulah ia menyelesaikan dan merilisnya secara utuh. Lagunya bersama Ice Spice, “Boy’s a Liar Pt. 2”, menjadi salah satu contoh bagaimana lagu era TikTok kerap dibuka langsung tanpa intro sama sekali.

Menariknya, tren ini tidak sepenuhnya searah. Laporan Kompas.id turut mencatat adanya pergeseran balik: sejumlah musisi mulai melawan arus lagu pendek, dan tangga lagu di Inggris justru menunjukkan durasi lagu-lagu populer perlahan merangkak naik kembali sejak 2019. Ini menandakan bahwa dominasi format super pendek bukanlah jalan satu arah yang permanen, melainkan salah satu fase dalam siklus selera pendengar yang terus berubah.

Sejumlah pengamat musik turut menyoroti sisi lain dari fenomena ini. Ada kekhawatiran bahwa tren durasi pendek mempersempit ruang eksperimen musisi—dulu, seorang musisi punya keleluasaan untuk bermain dengan intro panjang, perubahan tempo, atau instrumental kompleks, sementara kini banyak lagu dituntut untuk langsung “menjual” dirinya sejak detik pertama. Meski begitu, tidak sedikit pula yang berpendapat bahwa durasi pendek bukan berarti kreativitas menurun, melainkan sekadar bentuk kreativitas yang berbeda: bagaimana menyampaikan emosi dan cerita seefisien mungkin.

Dari berbagai temuan ini, dapat disimpulkan bahwa musik memang mengalami tekanan nyata untuk menjadi lebih ringkas, didorong oleh kombinasi algoritma platform streaming, budaya short-form video, serta menurunnya rentang perhatian pendengar digital. Namun demikian, durasi pendek bukanlah keharusan mutlak yang akan berlaku selamanya. Tanda-tanda kebangkitan lagu berdurasi lebih panjang mulai terlihat di beberapa tangga lagu, menunjukkan bahwa pada akhirnya, yang benar-benar dicari pendengar bukanlah durasi yang pas, melainkan kejujuran emosi dan momen yang membuat mereka berhenti sejenak dari scroll tanpa henti.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *