Dr Pat O’Grady, dosen Teknologi Musik di ANU School of Music, menolak melihat fenomena ini sebagai tanda bahaya. Menurutnya, hubungan musik populer dengan teknologi memang sudah lama terjalin, dan potongan video TikTok sering menjadi gerbang menuju versi lengkap lagu di platform seperti Spotify. Ia mencontohkan “Dreams” milik Fleetwood Mac, yang kembali naik lewat video skateboard, serta “Running Up That Hill” yang melonjak karena minat pada era 1980-an dan serial Stranger Things. Pesan intinya, viral bukan semata soal lagu, melainkan bagian dari kisah budaya yang lebih luas.
O’Grady juga mengingatkan bahwa ini bukan hal baru. Pada akhir 1990-an ada ketertarikan pada pop era 1970-an, dan pada 1960-an musisi seperti The Beatles dan The Rolling Stones banyak terpengaruh musik periode Barok. Dengan kata lain, TikTok hanya alat baru untuk kebiasaan lama: menengok ke belakang. Ia menilai TikTok pun berfungsi sebagai jembatan, karena membantu anak muda mengenal musik masa lalu dan memperkenalkan lagu lama kepada audiens baru.
Lapisan kedua lebih bersifat psikologis dan sosial. Pada Juni 2026, tren “2026 is the new 2016” memenuhi TikTok dan Instagram. RRI melaporkan bahwa tren ini lahir dari kerinduan pada era internet yang dianggap lebih sederhana, dan sejalan dengan laporan bahwa lagu-lagu lama kembali mendominasi layanan streaming karena banyak anak muda memilih musik dekade sebelumnya. Angkanya pun nyata: pencarian “2016” di TikTok melonjak 452 persen dalam seminggu, sementara Spotify mencatat kenaikan 71 persen pada playlist bertema “2016” dibanding 2024
Newsletter NoGood menafsirkan gejala ini lebih dalam. Menurut analisis mereka, tren ini mencerminkan penolakan kolektif terhadap infrastruktur internet saat ini, mulai dari algoritma, tekanan untuk tampil, hingga konten sintetis, dan nostalgia berubah menjadi cara mengatasi kelelahan. Perlu dicatat, ini tafsir sebuah newsletter pemasaran, bukan hasil riset akademik. Namun arahnya sejalan dengan catatan Tubefilter bahwa nostalgia kini tak lagi identik dengan milenial saja, dan pada dasarnya merupakan bentuk eskapisme yang dicari Gen Z saat membuka TikTok.
Gelombang nostalgia ini punya dampak bisnis. Selain vinil, Axios menyoroti merek-merek lawas yang penjualannya naik karena tren era 1990-an dan awal 2000-an di TikTok. Bagi industri musik, artinya katalog lama kini bernilai ulang. Lagu yang selama bertahun-tahun “tidur” bisa tiba-tiba menghasilkan streaming besar tanpa promosi baru, asalkan ada momen budaya yang memicunya, entah film, serial, atau tantangan viral.
