
Perbedaan antara viral dan bertahan terlihat jelas pada angka konversi. Mengutip analisis Duetti, Digital Music News melaporkan bahwa dari kurang dari 1 persen lagu yang viral di TikTok, hanya sekitar 15 persen yang mengalami pertumbuhan streaming jangka panjang di layanan seperti Spotify dan Apple Music. Analis Chartmetric, Domenico Randazzo, menyebut “The TikTok gold rush is declining”, dan menyarankan industri melihat indikator yang lebih stabil, seperti interaksi di Instagram dan playlist buatan pengguna.
Mekanismenya sudah lama dicatat insan industri. Jeff Vaughn, kini Presiden Capitol Records, mengatakan kepada Rolling Stone pada 2019 bahwa TikTok menggerakkan lagu begitu cepat sehingga sulit membangun fondasi untuk artisnya jika sebelumnya tidak ada. Rolling Stone menyimpulkan bahwa aplikasi ini industri mengandalkannya sebagai landasan peluncuran lagu besar, tetapi seolah dirancang untuk menciptakan banyak “one-hit wonder”. Salah satu contohnya “Rocking a Cardigan in Atlanta” milik Lil Shordie Scott, yang viral di TikTok dan mencapai posisi 77 Billboard Hot 100 pada Maret 2022, lalu oleh sebagian kritikus dijuluki one-hit wonder.
Ada beberapa faktor mengapa sound cepat berganti diantaranya:
- Algoritma menghadiahi hal baru. Studi konten terhadap 35 audio dan video TikTok yang viral pada 2024-2025 di jurnal Musikolastika menyimpulkan bahwa TikTok tidak hanya mengarahkan selera musik tetapi juga mempercepat siklus viralitas lagu. Popularitas di sana tidak semata ditentukan kualitas artistik, tetapi juga cara pengguna memakai lagu tersebut.
- Yang viral hanya potongan. Sound yang dipakai kreator biasanya cuplikan hook, bukan lagu utuh, sehingga hubungan pendengar dengan lagunya dangkal. Begitu tren tari atau format konten berganti, sound ikut ditinggalkan. Ini analisis saya berdasarkan data di atas, bukan temuan satu sumber tertentu.
- Persaingan makin padat. Dengan jumlah lagu yang terus meningkat, perhatian pendengar terbagi lebih tipis, sehingga satu momen viral lebih cepat tergeser.

Gambarannya tidak sepenuhnya suram. Analisis Chartmetric menemukan bahwa 89 lagu rilisan sebelum 2010 muncul di tangga lagu Spotify sekaligus TikTok, dengan lagu dekade 1970-an hingga 1990-an menyumbang porsi cukup besar, tanda bahwa katalog lama terus muncul kembali secara organik. Jadi tren memang cepat berganti, tetapi lagu yang punya daya tahan bisa kembali di lain waktu. Ini terhubung dengan fenomena nostalgia yang saya bahas di artikel sebelumnya.
