Musik yang Dibuat untuk Algoritma: Ketika Streaming Mempengaruhi Cara Lagu Diciptakan

Colorful playlist design | Vore music playlist design, Spotify wrapped ...

Pengaruh algoritma tidak berhenti di intro. Analisis SoundGuide berpendapat bahwa budaya playlist menjadikan lagu modul dengan suasana seragam agar mulus berdampingan dengan lagu lain yang dipilihkan algoritma. Ini opini analis, bukan temuan penelitian, tetapi sejalan dengan kekhawatiran Cross. Washington Times pun mencatat bahwa lagu makin pendek dan sederhana, dan sering menghilang di dalam playlist buatan algoritma alih-alih menonjol sendiri.

Di sisi bisnis, ada tuduhan lain. Detik melaporkan bahwa sebuah laporan menyatakan Spotify mengisi playlist pendengar dengan “artis hantu” untuk menekan biaya royalti, sementara juru bicara Spotify membantah tuduhan itu. Ini klaim yang disengketakan, jadi tulis sebagai tuduhan, bukan fakta.

Sumber khusus soal pengaruh algoritma terhadap penulisan lagu di Indonesia belum saya temukan, dan itu celah yang bisa kamu isi sendiri. Yang ada baru soal alur uang. Kajian Universitas Muhammadiyah Surakarta menjelaskan bahwa royalti dibayarkan Spotify lewat distributor musik lebih dulu, baru diteruskan kepada pencipta. Artinya musisi Indonesia ikut terhubung ke aturan yang sama, termasuk ambang 30 detik, tetapi bagaimana mereka menyiasatinya perlu dikonfirmasi lewat wawancara.

Agar adil, tren ini tidak sepenuhnya baru. Léveillé Gauvin sendiri menyatakan bahwa tidak ada cara menjelaskan seluruh perubahan itu hanya dengan streaming dan tombol skip, karena perubahan teknologi sudah lama membentuk cara orang menggubah dan mendengar musik, dan CD membawa kemudahan skip yang jauh melampaui vinil atau kaset. Jadi streaming adalah babak terbaru dari hubungan panjang antara medium dan musik.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *