Genre Musik yang Sedang Naik Daun: Dari Pop hingga Hyperpop

Meta description (sekitar 145 karakter): Dance/electronic memimpin pertumbuhan genre 2026, hyperpop merembes ke pop arus utama, dan hipdut mengubah peta musik Indonesia.

Peta genre musik 2026 tidak lagi dikuasai satu warna. Laporan Luminate 2026 Midyear menempatkan dance/electronic sebagai genre dengan pertumbuhan terbesar di Amerika Serikat pada paruh pertama tahun ini. Pada saat yang sama, hyperpop yang dulu hidup di sudut internet kini ikut membentuk bunyi pop arus utama. Di Indonesia, hipdut tampil sebagai jawaban lokal bagi Gen Z.

Dalam rilis Luminate, dance/electronic naik sekitar 0,5 poin pangsa streaming dibanding paruh pertama 2025, diikuti pop sekitar 0,2 poin dan world music sekitar 0,15 poin. Angka ini mengacu pada streaming audio sesuai permintaan (on-demand) di AS.

Pendorongnya bukan sekadar nostalgia. Mayoritas streaming dance/electronic berasal dari lagu berusia 0 sampai 18 bulan, berbeda dengan pop dan rock yang didominasi katalog lama. Luminate juga mencatat bahwa pertumbuhan artis EDM baru terutama didorong tur dan penampilan langsung, dengan 31 persen pendengarnya menghadiri acara live dalam tiga bulan terakhir.

Melansir dari Billboard, streaming on-demand dance/electronic di AS tumbuh 18,9 persen secara tahunan, dan Billboard menilai gejala ini lebih tepat disebut perluasan, bukan sekadar kebangkitan kembali.

Genre lain bergerak berlawanan arah. Pangsa R&B/hip-hop di tangga album Billboard 200 turun menjadi sekitar 30 persen dari lebih dari 40 persen pada paruh pertama 2023, meski genre ini tetap terbesar di platform streaming AS.

Hyperpop punya silsilah yang cukup jelas. A. G. Cook meluncurkan PC Music di London pada 2013, lalu pada 2019 Spotify membuat playlist bernama hyperpop dan 100 gecs merilis 1000 gecs. Nama itu menempel pada skena yang sudah lebih dulu tumbuh di SoundCloud.

Titik baliknya datang lewat Brat milik Charli xcx pada 2024. Collins Dictionary menobatkan “brat” sebagai Word of the Year 2024, dan album itu mengubah Charli dari artis hyperpop yang relatif niche menjadi nama yang dikenal luas. Menurut Orphiq, label hyperpop kini justru memudar karena bahasa produksinya sudah menyebar ke pop dan rap.

Contoh paling segar tahun ini adalah U, album ketiga underscores. Album yang dirilis 20 Maret 2026 lewat Mom + Pop Music itu meraih Metascore 89 dari sembilan ulasan, dengan nilai 100 dari NME, 86 dari Pitchfork, dan 80 dari The Guardian. Billboard juga mencatat underscores sebagai artis hyperpop yang masuk 20 besar album dance 2026.

Paste menilai U tetap menyimpan keanehan khas karya sebelumnya, tetapi memenuhi unsur album pop klasik, mulai dari single berkoreografi sampai lagu penutup perpisahan. underscores sendiri menggambarkan albumnya cocok untuk mal, bandara, hotel, dan supermarket, berdasarkan pengalamannya sebagai musisi yang terus bepergian.

Di jalur K-pop, KATSEYE merilis “Pinky Up” pada 9 April 2026. Lagu bergenre hyperpop dan techno-pop itu dirilis Hybe UMG dan Geffen Records sebagai single utama EP Wild, dengan produser “Hitman” Bang, David Wilson, dan Frants

Luminate menemukan penggemar K-pop dan indie rock sebagai yang paling terlibat dan paling mungkin membeli produk artis favorit mereka. Efeknya terlihat di penjualan fisik: penjualan CD di AS naik 16 persen menjadi 16,3 juta unit pada paruh pertama 2026, jauh di atas vinil yang tumbuh 2,4 persen. Tanpa album BTS ARIRANG dan rilisan K-pop lain, kenaikan CD hanya 6,7 persen.

Genre Latin ikut melebar. Pendengar kasual bulanan genre ini mencapai puncak 54 persen pada kuartal pertama 2026.

Di dalam negeri, panggungnya milik hipdut. The Jakarta Post menyebut 2025 sebagai tahun hipdut, ketika talenta kolektif Antinrml seperti Jemsii, Naykilla, dan Tenxi membawa campuran hip-hop dan dangdut ke arus utama. Pada AMI Awards November 2025, “Garam & Madu (Sakit Dadaku)” menjadi lagu hipdut pertama yang menang kategori Karya Produksi Terbaik Terbaik.

DetikPop menguraikan ciri hipdut: struktur beat hip-hop yang repetitif dipadukan pola kendang koplo, lirik berbahasa sehari-hari dan slang, serta rap bebas dengan cengkok vokal dangdut.

Naykilla melihatnya sebagai peluang. Kepada detikPop pada 5 Oktober 2025, ia mengaku senang membawa warna baru dan melihat “gelombang baru untuk musik Indonesia”. Ia juga sadar popularitas di era viral bisa cepat surut.

Pada 17 Oktober 2025, Naykilla merilis EP debut Centyl yang memadukan breakbeat, dangdut, dan pop elektronik. Pada 18 Juli 2026, set hipdut-nya di Soundrenaline Sana Sini Jakarta membuat penonton bergoyang tanpa henti.

Jika dibaca berdampingan, pola yang muncul adalah genre tak lagi naik sebagai blok tunggal. Hyperpop diserap pop, dance/electronic tumbuh dari panggung, K-pop digerakkan fandom, dan hipdut lahir dari media sosial lalu naik ke festival. Ini tafsir penulis, bukan temuan satu sumber.

Satu catatan penting: data Luminate dan Billboard di atas merujuk pasar AS. Peta genre di Indonesia punya dinamika sendiri, dan data setara belum kami temukan, sehingga kisah hipdut bertumpu pada liputan media, bukan angka streaming.

Pertanyaan yang tersisa bukan lagi genre apa yang menang tahun ini, melainkan bagaimana genre-genre itu saling meminjam bunyi dan menjangkau pendengar baru.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *