Givenoor, Musisi Muda yang Menjadikan Musik sebagai Bahasa Emosi

BERITA BISING

6/23/20263 min read

Foto: Givenoor

Malang, 5 juni 2026 —Bagi Yunan Chirana Putra, musik bukan sekadar bunyi yang disusun menjadi lagu. Di balik nama panggung Givenoor, ia memandang musik sebagai ruang luas untuk menyampaikan rasa, menafsirkan pengalaman, sekaligus menjembatani emosi manusia yang sering kali sulit diungkapkan lewat kata-kata biasa.

Givenoor tidak ingin membatasi dirinya dalam satu warna musik tertentu. Baginya, seorang musisi yang hanya bertahan pada satu genre akan mudah terjebak dalam pola yang monoton. Ia memilih untuk membuka ruang eksplorasi seluas mungkin, baik dalam pop, R&B, soul, rap, maupun warna musik lain yang menurutnya dapat menjadi medium ekspresi.

“Aku ibaratkan diri seperti chef yang bisa memasak menu apa pun untuk dihidangkan,” ungkapnya.

Perumpamaan itu menjadi cara Givenoor menjelaskan sikap bermusiknya. Ia tidak ingin pendengar mengenalnya hanya dari satu bentuk lagu atau satu karakter musikal saja. Setiap karya, menurutnya, dapat lahir dengan warna berbeda. Pilihan akhirnya diserahkan kepada audiens, karena dalam dunia seni, selera pendengar memiliki ruangnya masing-masing.

kini tidak lagi takut melintasi batas genre, selama karya yang dihasilkan tetap jujur dan memiliki rasa.

Dalam proses kreatifnya, Givenoor menyerap banyak pengaruh dari berbagai musisi lintas genre. Untuk warna pop, ia banyak memperhatikan karya Lewis Capaldi dan Adele. Dari R&B, ia menyebut nama Chris Brown, Jaydon, dan The Kid Laroi. Sementara dari soul, ia mengambil inspirasi dari Vancouversleepclinic dan Novo Amor. Pada ranah rap, nama seperti 6lack, Russ, dan Cordae turut memberi pengaruh, termasuk Fridayy dan Bryson Tiller untuk pendekatan melody rap.

Pengaruh itu tidak ia tiru mentah-mentah. Givenoor menggunakan metode yang ia sebut sebagai ATM atau amati, tiru, dan modifikasi. Melalui cara itu, ia mempelajari bagaimana para musisi tersebut membangun rasa, menulis lirik, mengatur dinamika vokal, hingga menciptakan suasana dalam lagu. Setelah itu, ia mengolahnya kembali menjadi bentuk yang sesuai dengan dirinya.

Perjalanan Givenoor sebagai musisi tidak selalu mudah. Salah satu tantangan terbesarnya terjadi ketika ia mulai ingin membawa karyanya ke platform musik digital seperti Spotify, Joox, dan Apple Music. Pada awalnya, ia hanya mengunggah karya melalui YouTube karena belum memahami proses distribusi musik secara lebih luas.

Ia mengaku sempat kebingungan. Dunia distribusi digital terasa asing, terutama ketika harus memahami bagaimana lagu bisa masuk ke berbagai platform resmi. Dari proses belajar perlahan, ia mulai mengenal agregator musik. Dari situ pula ia memahami bahwa persoalan hak cipta menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan setelah sebuah karya dirilis.

Pengalaman tersebut membuat Givenoor melihat bahwa menjadi musisi saat ini tidak cukup hanya dengan menciptakan lagu. Seorang musisi juga perlu memahami jalur distribusi, perlindungan karya, serta cara menjangkau pendengar melalui berbagai kanal digital.

Kehadiran platform musik digital, menurutnya, memberi peluang besar bagi musisi independen. Platform tersebut membuka pasar yang lebih luas, tidak lagi terbatas pada ruang fisik atau satu media tertentu. Musisi kini memiliki kesempatan untuk memperkenalkan karya kepada pendengar dari berbagai daerah, bahkan lintas negara.

“Ibaratnya, kita makin punya banyak pasar untuk jualan,” ujarnya.

Meski demikian, Givenoor tetap melihat bahwa masa depan musisi tidak hanya bergantung pada platform. Kualitas karya tetap menjadi hal utama. Platform digital memang membantu memperluas jangkauan, tetapi karya yang kuat, jujur, dan memiliki karakter tetap menjadi alasan utama pendengar bertahan.

Di balik seluruh proses itu, musik bagi Givenoor adalah bahasa emosi yang universal. Ia menggunakan musik untuk menyampaikan berbagai rasa, mulai dari senang, sedih, kecewa, hingga marah. Bahkan amarah pun, baginya, bisa diolah menjadi lirik jika dikemas dengan tepat.

Setiap emosi yang hadir ia kumpulkan menjadi bait-bait lagu. Dari pengalaman personal itulah karya-karyanya tumbuh. Ia tidak sekadar menulis untuk mengikuti tren, tetapi berusaha menjadikan musik sebagai ruang paling jujur untuk berbicara.

Givenoor masih terus bergerak. Dengan semangat eksplorasi dan keberanian untuk tidak menetap pada satu warna, ia ingin terus menghadirkan karya-karya baru yang beragam. Bukan untuk membingungkan pendengar, melainkan untuk menunjukkan bahwa musik selalu memiliki kemungkinan yang luas.

Bagi Givenoor, menjadi musisi berarti terus belajar, terus mencoba, dan terus mencari bentuk terbaik dari setiap rasa yang ingin disampaikan.

Get in touch

riuhmagazine@gmail.com