Lakuna dan Mudra, Ketika Kehancuran Adalah Sebuah Awal

BERITA BISING

6/12/20262 min read

Foto: Lakuna / Sumber: @story.of.lakuna

Uniknya, Mudra tidak lahir dari ruang rekaman. Ia bermula dari selembar naskah drama. Ditulis sendiri oleh vokalis Lakuna dengan judul yang sama. Teks diartikan yang kemudian menemukan hidupnya dalam bentuk musik. Proses alih wahana ini membuat Mudra memiliki kepadatan naratif yang jarang ditemukan dalam karya pop rock kontemporer Indonesia. Ia bukan sekedar lagu, melainkan dunia yang dibangun dengan sadar dan penuh niat.

“kehancuran di sini tidak dipandang sebagai tragedi, melaikan sebagai bagian dari siklus kosmis. Bahwa segala yang lahir akan kembali dan dari kehampaan itulah yang kemungkanan baru selalu bermula."

LAKUNA TENTANG MADRA

Secara tematik, Mudra menatap yang luar biasa luas. Ia berbicara tentang akhir dari segala yang kini dijalanin manusia. Alam semesta yang suatu saat akan redup, dimensi-dimensi yang akan kembali menyatu dan kehidupan yang perlahan bergerak kembali menuju kehampaan. Lakuna dengan sengaja menetapkan semua gambaran apokaliptik itu dalam bingkai yang berberda dari yang lazim.

Dalam pandangan band ini, kehancuran bukan klimaks dari sebuah tragedi. Ia adalah satu fase dalam siklos kosmis yang tak pernah benar-benar berhenti. kehampaan lahir kemungkinan dari yang hancur, tumbuh yang baru.

Hadirnya Mudra di sini bukan tanpa fungsi yang diperhitungkan. Lakuna menempatkannya sebagai rasa dan pemahaman sebuah ruang tradisi sebuah pendengar memasuki karya berikutnya yang lebih besar. Ia seperti nafas pertama sebelum perjalanan panjang dimulai. Sebuah ruang perenungan yang menghadapkan manusia pada ayat-ayat kehidupan, sekaligus menyiapkan hati untuk mendengarkan kisah yang lebih personal dalam album penuhnya yang akan datang.

Posisi trategis ini mencerminkan kesadarn artisik yang matang. Di era streaming di mana rilis mendominasi dan kesabar pendengar yang semakin tipis. Lakuna justru memilih untuk membangun konteks terlebih dahulu. Mereka percaya bahwa sebuah album sebagai satu kesatuan naratif. Layak pendapat pengantar yang setimpal.

Mudra menyimpan lapisan yang lebih intim dan personal. Band ini mengakui bahwa maxi ini masih berhubungan dengan tema kesehatan mental sesuatu yang akan dijabarkan lebih utuh ketika album penuh hadir pada 10 Juli mendatang, di mana Mudra memang telah diplot sebagai bagian integral dari narasi besar tersebut.

Pilihan untuk tidak tergesa-gesa menjelaskan koneksi itu justru terasa tepat. Lukisan kehancuran kosmis sebagai metafora bagi kehancuran batin dan pembaruan semesta sebagai harapan bagi pemulihan jiwa  adalah bahasa yang kuat justru karena ia tidak terlalu literal. Pendengar diundang untuk membawa penafsiran mereka sendiri, menjadikan lagu ini sesuatu yang berbeda bagi setiap orang yang mendengarnya.

Dengan Mendengarkan Hati dan Logika sebagai single berikutnya yang menanti, Lakuna tampaknya bergerak dari skala semesta menuju skala yang lebih manusiawi dari bintang yang padam menuju pertarungan batin yang nyata. Sebuah perjalanan yang, kalau konsistensi visi mereka boleh dijadikan ukuran, akan sangat layak untuk ditunggu.

Foto: Mudra / Sumber: @story.of.lakuna

Mudra lahir dari sebuah naskah drama sebuah meditasi kosmis tentang siklus kehancuran dan pembaharuan yang bergerak perlahan seperti rotasi bintang yang tak bisa dihentikan. Ia hadir sebagai jembatan spiritual, menggantung di antara dua dunia. Lakuna membawa pendengarnya menyelam lebih dalam ke keheningan yang penuh makna dalam album penuh yang akan datang.

Ada dua kata yang menjadi fondasi seluruh bangunan pikiran di balik Mudra, maxi terharu dari Lakuna “kun faya kun” perintah ilahi yang dalam tradisi islam bermakna “jadilah, maka jadilah ia.” Filosofi yang tumbuh bukan tentang penciptaan semata, melainkan tentang keniscayaan bahwa yang terjadi, terjadilah.

Get in touch

riuhmagazine@gmail.com