Musik, Emosi, dan AI: Kisah Inspiratif Farhan dari Komunitas More ART, More It

GEMURUH

6/24/20251 min read

Foto:  The Belcamp Trees

Malang, 6 juni 2026 — Farhan, gitaris yang aktif dalam komunitas More ART, More It, menceritakan awal perjalanannya jatuh cinta pada dunia musik. Ia mengaku semuanya bermula dari kebiasaan nongkrong bersama teman-teman sambil mendengarkan musik. Dari situ, ia mulai bermainmain dengan alat musik, dan perlahan menemukan bahwa hidup di dunia musik terasa begitu menarik.

“Awalnya tiap nongkrong dengar musik, terus main-main musik gitu. Dari situ, aku mulai merasa hidup di dunia musik itu asik,” katanya.

Dalam hal inspirasi, Farhan menyebut banyak musisi yang memengaruhi perjalanan kariernya. Khusus di Indonesia, ia menyoroti gitaris Eros Chandra, dari SeilaOn Seven, sebagai sosok yang sangat berpengaruh. Menurutnya, musik bukan hanya soal nada dan ritme, tapi juga sebagai media ekspresi emosi.

“Dari lagu-lagu tercipta keresahan yang bisa disampaikan seorang musisi. Musik itu cara untuk menyampaikan pesan,” jelas Farhan.

Proses kreatif Farhan pun menarik. Saat membentuk band bersama teman-temannya, mereka membagi tugas secara fleksibel. Terkadang ia menyiapkan lirik terlebih dahulu, lalu bersama anggota band lainnya mereka mencari nada yang sesuai. Sebaliknya, kadang nada yang sudah ada akan dijadikan titik awal untuk mencari lirik yang tepat. Pendekatan ini memungkinkan setiap anggota berkontribusi sesuai kekuatan masing-masing, menciptakan kolaborasi yang organik.

Farhan juga menyambut baik perkembangan teknologi digital, termasuk penggunaan AI dalam musik. Ia menilai teknologi ini membuka peluang eksplorasi lebih luas bagi musisi. “Teknologi digital canggih sekarang bagus malahan, karena musisi bisa lebih eksploratif dan memberi kesan berbeda pada pendengar,” ungkapnya.

Saat ditanya tentang lagu yang paling menggambarkan hidupnya saat ini, Farhan memilih karya dari The Clove and The Tobaccos, khususnya lagu berjudul Sapaktilas Kerinduan. Lagu ini resonan dengan perasaannya sebagai anak perantau yang jarang pulang ke rumah.

“Sebagai anak perantau, lagu itu ‘ngeh banget’,” tuturnya

Get in touch

riuhmagazine@gmail.com